Cerita Sehat

Acute Mountain Sickness (AMS): Penyakit Ketinggian yang Bisa Berakibat Fatal

Acute Mountain Sickness (AMS) adalah penyakit ketinggian yang dapat membahayakan nyawa. Pelajari gejala, penyebab, dan cara mencegahnya sebelum mendaki ke ketinggian ekstrem.

Acute Mountain Sickness (AMS): Penyakit Ketinggian yang Bisa Berakibat Fatal

Sebelumnya social media sempat digemparkan oleh kabar duka dari dunia pendakian. Dua pendaki perempuan senior, Lilie Wijayati Poegiono dan Elsa Laksono, meninggal dunia saat mencapai Puncak Jaya (Carstensz Pyramid) akibat Acute Mountain Sickness (AMS) atau penyakit ketinggian. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa mendaki di ketinggian ekstrem bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kesiapan tubuh dalam menghadapi perubahan lingkungan yang drastis.

Apa itu Acute Mountain Sickness (AMS)?

AMS terjadi ketika tubuh kesulitan beradaptasi dengan kadar oksigen yang lebih rendah di ketinggian. Saat seseorang mencapai 2.400 meter di atas permukaan laut (mdpl) atau lebih, kadar oksigen dan tekanan udara menurun drastis. Jika perubahan ini tidak diwaspadai, dampaknya bisa berbahaya bagi kesehatan, bahkan berujung pada kondisi fatal seperti edema paru atau edema otak.

Tanda dan Gejala Acute Mountain Sickness (AMS)

AMS dapat menimbulkan gejala ringan hingga berat yang muncul dalam hitungan jam hingga satu hari setelah seseorang mencapai ketinggian tertentu. Gejala ini terjadi akibat tubuh kesulitan beradaptasi dengan kadar oksigen yang lebih rendah dan tekanan udara yang lebih rendah di ketinggian. Berikut adalah beberapa gejala yang umum dirasakan oleh pendaki yang mengalami AMS:

a. Gejala Ringan:

Gejala awal AMS sering kali terasa seperti flu ringan atau kelelahan akibat aktivitas fisik. Beberapa tanda yang bisa muncul antara lain:

  • Pusing atau sakit kepala yang semakin memburuk saat beraktivitas
  • Mual dan muntah, terutama setelah makan atau minum
  • Kelelahan berlebihan, meskipun tidak melakukan aktivitas berat
  • Kehilangan nafsu makan, yang dapat memperburuk kondisi tubuh
  • Insomnia atau kesulitan tidur, meskipun merasa sangat lelah
  • Denyut nadi lebih cepat dari biasanya, terutama saat beristirahat

b. Gejala Sedang hingga Berat:

Jika AMS tidak segera ditangani, gejala dapat memburuk dan berisiko menyebabkan komplikasi serius. Gejala yang lebih parah meliputi:

  • Sesak napas bahkan saat beristirahat
  • Kebingungan atau disorientasi, yang bisa mengganggu pengambilan keputusan saat mendaki
  • Gangguan koordinasi tubuh (Ataxia), seperti kesulitan berjalan lurus atau kehilangan keseimbangan
  • Pembengkakan pada tangan, kaki, dan wajah akibat retensi cairan
  • Batuk kering yang terus-menerus, yang bisa menjadi tanda edema paru
  • Penurunan kesadaran atau pingsan, yang mengindikasikan kondisi darurat medis

Gejala ini bisa berkembang menjadi High Altitude Pulmonary Edema (HAPE) atau High Altitude Cerebral Edema (HACE)—dua kondisi yang mengancam nyawa jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, penting bagi pendaki untuk mengenali tanda-tanda AMS sejak dini dan segera turun ke ketinggian yang lebih rendah jika gejalanya semakin parah.

Artikel lainnya: Hindari Naik Gunung Jika Punya Riwayat Penyakit Ini

Penyebab Acute Mountain Sickness (AMS)

Gejala AMS biasanya mulai muncul saat seseorang mencapai ketinggian 2.400 – 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi ini terjadi karena tubuh belum terbiasa atau belum sempat beradaptasi dengan penurunan tekanan udara dan kadar oksigen di ketinggian.

Akibatnya, tubuh mengalami hipoksia jaringan, yaitu kondisi di mana organ dan sel-sel tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen. Otak menjadi organ yang paling sensitif terhadap hipoksia, sehingga kekurangan oksigen dapat memicu berbagai gejala AMS, mulai dari sakit kepala hingga gangguan kesadaran jika tidak segera ditangani.

Faktor Risiko Acute Mountain Sickness (AMS)

Risiko terjadinya AMS meningkat jika seseorang memiliki salah satu atau lebih dari faktor berikut:

  • Memiliki riwayat AMS sebelumnya, yang membuat tubuh lebih rentan mengalami kondisi serupa di kemudian hari.
  • Naik ke ketinggian di atas 2.400 mdpl terlalu cepat, tanpa memberikan waktu yang cukup bagi tubuh untuk beradaptasi.
  • Menderita penyakit kronis, seperti penyakit jantung, gangguan saraf, atau penyakit paru-paru, yang dapat mempengaruhi kemampuan tubuh dalam menyesuaikan diri dengan kadar oksigen rendah.
  • Memiliki riwayat anemia, yang menyebabkan kurangnya pasokan oksigen dalam darah.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat tidur, analgesik narkotika, atau obat sedatif yang dapat menurunkan laju pernapasan, sehingga memperburuk efek AMS.

Memahami faktor risiko ini dapat membantu pendaki untuk lebih berhati-hati dan melakukan persiapan yang lebih matang sebelum mendaki ke daerah dengan ketinggian ekstrem.

Diagnosis Acute Mountain Sickness (AMS)

Diagnosis AMS dilakukan oleh dokter melalui pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Pemeriksaan akan difokuskan pada paru-paru, menggunakan stetoskop untuk mendeteksi adanya tanda-tanda penumpukan cairan yang dapat mengindikasikan edema paru akibat AMS.

Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar oksigen dalam darah dan menentukan apakah terjadi hipoksia. Beberapa pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain meliputi:

  • Rontgen dada, untuk melihat adanya cairan atau pembengkakan di paru-paru.
  • CT scan kepala, untuk mendeteksi kemungkinan edema otak akibat AMS berat.
  • Elektrokardiogram (EKG), untuk mengevaluasi kondisi jantung dan memastikan tidak ada gangguan lain yang berkontribusi terhadap gejala yang muncul.

Diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting untuk mencegah komplikasi serius dari AMS, sehingga penanganan yang tepat dapat segera diberikan.

Artikel lainnya: Mengenal Perbedaan Hipotermia, Frostbite, dan Altitude Sickness

Pengobatan Acute Mountain Sickness (AMS)

Jika AMS terjadi saat masih berada di ketinggian, langkah-langkah berikut dapat dilakukan untuk mengatasi kondisinya:

1. Istirahat

Segera cari tempat untuk beristirahat begitu gejala AMS mulai dirasakan. Istirahat akan membantu tubuh beradaptasi dengan kadar oksigen yang lebih rendah dan tekanan udara yang lebih rendah di ketinggian.

2. Observasi

Saat beristirahat, lakukan pemantauan kondisi selama 24 jam. Jika gejala tidak membaik atau semakin memburuk, segera turun ke ketinggian yang lebih rendah. Sebagian besar pendaki akan mengalami perbaikan gejala setelah turun sekitar 500 – 800 mdpl.

3. Pemberian Obat-obatan

Beberapa jenis obat dapat membantu meredakan gejala AMS, di antaranya:

  • Paracetamol atau ibuprofen: Mengurangi sakit kepala dan pusing.
    • Dosis: Paracetamol 500 mg setiap 8 jam atau ibuprofen 600 mg setiap 8 jam.
  • Ondansetron: Mengurangi mual dan muntah.
    • Dosis: 4 mg per dosis.
  • Acetazolamide: Membantu mencegah penumpukan cairan di paru-paru dan mempercepat aklimatisasi.
  • Dexamethasone: Digunakan untuk mencegah edema otak akibat AMS berat.
  • Oksigen portabel: Membantu melancarkan pernapasan dan meningkatkan kadar oksigen dalam darah.
    • Dosis: 1-2 liter/menit selama 30 menit dapat mengurangi gejala AMS dalam beberapa jam ke depan.

Jika gejala AMS semakin parah, seperti sesak napas berat, kebingungan, atau kehilangan kesadaran, segera cari bantuan medis dan lakukan evakuasi ke ketinggian yang lebih rendah sesegera mungkin.

Pencegahan Acute Mountain Sickness (AMS)

Pendaki perlu mengenali tanda-tanda awal AMS agar dapat mengambil tindakan cepat. Mengingat lokasi pendakian yang sering kali sulit dijangkau oleh tenaga medis, deteksi dini dan langkah pencegahan yang tepat dapat meningkatkan keselamatan serta mencegah kondisi AMS memburuk.

Berikut beberapa tips untuk mencegah AMS saat mendaki:

  • Lakukan pendakian secara bertahap, agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tekanan udara dan kadar oksigen.
  • Hindari tidur di ketinggian lebih dari 2.400 mdpl pada malam pertama untuk mengurangi risiko AMS.
  • Istirahat di ketinggian lebih rendah terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendakian lebih tinggi.
  • Penuhi kebutuhan cairan dengan cukup minum air untuk menghindari dehidrasi yang dapat memperburuk gejala AMS.
  • Hindari konsumsi alkohol setidaknya 48 jam sebelum pendakian, karena dapat mengganggu proses aklimatisasi tubuh.

Jika Anda berencana melakukan pendakian dalam waktu dekat, persiapkan diri dengan baik. Lakukan latihan fisik secara rutin dan lakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu untuk memastikan kondisi tubuh dalam keadaan prima.

Untuk informasi kesehatan lebih lengkap, kunjungi website KlikDokter atau download aplikasi  KlikDokter sekarang dan dapatkan tips kesehatan lainnya.

Referensi :