Sebelumnya social media sempat digemparkan oleh kabar duka dari dunia pendakian. Dua pendaki perempuan senior, Lilie Wijayati Poegiono dan Elsa Laksono, meninggal dunia saat mencapai Puncak Jaya (Carstensz Pyramid) akibat Acute Mountain Sickness (AMS) atau penyakit ketinggian. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa mendaki di ketinggian ekstrem bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kesiapan tubuh dalam menghadapi perubahan lingkungan yang drastis.
Apa itu Acute Mountain Sickness (AMS)?
Tanda dan Gejala Acute Mountain Sickness (AMS)
a. Gejala Ringan:
Gejala awal AMS sering kali terasa
seperti flu ringan atau kelelahan akibat aktivitas fisik. Beberapa tanda yang
bisa muncul antara lain:
- Pusing atau sakit kepala yang semakin memburuk saat
beraktivitas
- Mual dan muntah, terutama setelah makan atau minum
- Kelelahan berlebihan, meskipun tidak melakukan aktivitas
berat
- Kehilangan nafsu makan, yang dapat memperburuk kondisi
tubuh
- Insomnia atau kesulitan tidur, meskipun merasa sangat lelah
- Denyut nadi lebih cepat dari
biasanya, terutama
saat beristirahat
b. Gejala Sedang hingga Berat:
Jika AMS tidak segera ditangani, gejala dapat memburuk dan berisiko
menyebabkan komplikasi serius. Gejala yang lebih parah meliputi:
- Sesak napas bahkan saat beristirahat
- Kebingungan atau disorientasi, yang bisa mengganggu
pengambilan keputusan saat mendaki
- Gangguan koordinasi tubuh (Ataxia), seperti kesulitan berjalan
lurus atau kehilangan keseimbangan
- Pembengkakan pada tangan, kaki, dan wajah akibat retensi cairan
- Batuk kering yang terus-menerus, yang bisa menjadi tanda edema
paru
- Penurunan kesadaran atau pingsan, yang mengindikasikan kondisi
darurat medis
Penyebab Acute Mountain Sickness (AMS)
Gejala
AMS biasanya mulai muncul saat seseorang mencapai ketinggian 2.400 – 3.000
meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi ini terjadi karena tubuh belum
terbiasa atau belum sempat beradaptasi dengan penurunan tekanan udara dan
kadar oksigen di ketinggian.
Akibatnya, tubuh mengalami hipoksia jaringan, yaitu kondisi di mana organ dan sel-sel tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen. Otak menjadi organ yang paling sensitif terhadap hipoksia, sehingga kekurangan oksigen dapat memicu berbagai gejala AMS, mulai dari sakit kepala hingga gangguan kesadaran jika tidak segera ditangani.
Faktor Risiko Acute Mountain Sickness (AMS)
Risiko
terjadinya AMS meningkat jika seseorang memiliki salah satu atau lebih dari
faktor berikut:
- Memiliki
riwayat AMS sebelumnya,
yang membuat tubuh lebih rentan mengalami kondisi serupa di kemudian hari.
- Naik
ke ketinggian di atas 2.400 mdpl terlalu cepat, tanpa memberikan waktu yang
cukup bagi tubuh untuk beradaptasi.
- Menderita
penyakit kronis,
seperti penyakit jantung, gangguan saraf, atau penyakit paru-paru, yang
dapat mempengaruhi kemampuan tubuh dalam menyesuaikan diri dengan kadar
oksigen rendah.
- Memiliki
riwayat anemia,
yang menyebabkan kurangnya pasokan oksigen dalam darah.
- Mengonsumsi
obat-obatan tertentu,
seperti obat tidur, analgesik narkotika, atau obat sedatif yang dapat
menurunkan laju pernapasan, sehingga memperburuk efek AMS.
Memahami faktor risiko ini dapat membantu pendaki untuk lebih berhati-hati dan melakukan persiapan yang lebih matang sebelum mendaki ke daerah dengan ketinggian ekstrem.
Diagnosis Acute Mountain Sickness (AMS)
Diagnosis
AMS dilakukan oleh dokter melalui pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
Pemeriksaan akan difokuskan pada paru-paru, menggunakan stetoskop untuk
mendeteksi adanya tanda-tanda penumpukan cairan yang dapat
mengindikasikan edema paru akibat AMS.
Selain
itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar
oksigen dalam darah dan menentukan apakah terjadi hipoksia. Beberapa
pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis
dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain meliputi:
- Rontgen
dada,
untuk melihat adanya cairan atau pembengkakan di paru-paru.
- CT
scan kepala,
untuk mendeteksi kemungkinan edema otak akibat AMS berat.
- Elektrokardiogram
(EKG),
untuk mengevaluasi kondisi jantung dan memastikan tidak ada gangguan lain
yang berkontribusi terhadap gejala yang muncul.
Artikel lainnya: Mengenal Perbedaan Hipotermia, Frostbite, dan Altitude Sickness
Pengobatan Acute Mountain Sickness (AMS)
Jika AMS terjadi saat masih berada di
ketinggian, langkah-langkah berikut dapat dilakukan untuk mengatasi kondisinya:
1.
Istirahat
Segera cari tempat untuk beristirahat
begitu gejala AMS mulai dirasakan. Istirahat akan membantu tubuh beradaptasi
dengan kadar oksigen yang lebih rendah dan tekanan udara yang lebih rendah di
ketinggian.
2.
Observasi
Saat beristirahat, lakukan pemantauan kondisi
selama 24 jam. Jika
gejala tidak membaik atau semakin memburuk, segera turun ke ketinggian yang lebih rendah.
Sebagian besar pendaki akan mengalami perbaikan gejala setelah turun sekitar 500 – 800 mdpl.
3.
Pemberian Obat-obatan
Beberapa jenis obat dapat membantu
meredakan gejala AMS, di antaranya:
- Paracetamol atau ibuprofen: Mengurangi sakit kepala dan
pusing.
- Dosis: Paracetamol 500
mg setiap 8 jam atau ibuprofen 600 mg setiap 8 jam.
- Ondansetron: Mengurangi mual dan muntah.
- Dosis: 4 mg per dosis.
- Acetazolamide: Membantu mencegah penumpukan cairan di
paru-paru dan mempercepat aklimatisasi.
- Dexamethasone: Digunakan untuk mencegah edema otak akibat
AMS berat.
- Oksigen portabel: Membantu melancarkan pernapasan dan meningkatkan kadar
oksigen dalam darah.
- Dosis: 1-2 liter/menit selama 30 menit
dapat mengurangi gejala AMS dalam beberapa jam ke depan.
Jika gejala AMS semakin parah, seperti sesak napas berat, kebingungan, atau kehilangan kesadaran, segera cari bantuan medis dan lakukan evakuasi ke ketinggian yang lebih rendah sesegera mungkin.
Pencegahan Acute Mountain Sickness (AMS)
Pendaki
perlu mengenali tanda-tanda awal AMS agar dapat mengambil tindakan
cepat. Mengingat lokasi pendakian yang sering kali sulit dijangkau oleh tenaga
medis, deteksi dini dan langkah pencegahan yang tepat dapat meningkatkan
keselamatan serta mencegah kondisi AMS memburuk.
Berikut
beberapa tips untuk mencegah AMS saat mendaki:
- Lakukan
pendakian secara bertahap, agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi dengan perubahan
tekanan udara dan kadar oksigen.
- Hindari
tidur di ketinggian lebih dari 2.400 mdpl pada malam pertama untuk mengurangi risiko AMS.
- Istirahat
di ketinggian lebih rendah terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendakian
lebih tinggi.
- Penuhi
kebutuhan cairan
dengan cukup minum air untuk menghindari dehidrasi yang dapat memperburuk
gejala AMS.
- Hindari
konsumsi alkohol
setidaknya 48 jam sebelum pendakian, karena dapat mengganggu proses
aklimatisasi tubuh.
Jika
Anda berencana melakukan pendakian dalam waktu dekat, persiapkan diri dengan
baik. Lakukan latihan fisik secara rutin dan lakukan pemeriksaan kesehatan
terlebih dahulu untuk memastikan kondisi tubuh dalam keadaan prima.
Referensi :
- National Library of Medicine.
Acute Mountain Sickness. Diakses Maret 2025. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430716/
- Healthline. Acute Mountain
Sickness. Diakses Maret 2025. https://www.healthline.com/health/acute-mountain-sickness#outlook
- CDC. High Elevation Travel
& Altitude illness. Diakses Maret 2025. https://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2024/environmental-hazards-risks/high-elevation-travel-and-altitude-illness